Category Archives: Sharing

Kasih Sayang Allah Melebihi Orang Tua

Cinta AllahKebaikan orang tua kita pastinya banyak dari kita merasakannya, mulai dari kita masih di kandungan, tumbuh dan berkembang hingga kita bisa menjadi seperti ini.
Tahukah kita apa yang telah mereka perbuat untuk kita?
Mereka rela menahan lelah, menahan lapar hanya untuk buah hatinya tercinta, hanya untuk melihat buah hatinya tumbuh dan berkembang dengan sehat, melihat canda tawa kita saja mereka sudah sangat bahagia. Mereka pun rela mengorbankan tenaga, harta dan segalanya agar kita bisa sekolah, hingga kita dewasa … Orang tua kita masih menaruh perhatian pada kita, entah kita merasa ataupun tidak …

Apakah kita tak merasakan bagaimana dengan kasih sayang Allah yang telah diberikanNya?
Allah memberi kita segala yang kita butuhkan .. Udara, air, kehidupan, cahaya, rezeki pun Allah yang memberikan .
Apakah kita lupa siapa yang memberi pertolongan ketika kita lahir di dunia ini, ketika Ibunda kita melahirkan kita?
Jika Allah berkehendak, mudahlah bagiNya untuk menggagalkan kelahiran kita, dengan keduanya meninggal atau salah satunya .
Lupakah kita ketika Allah menyelamatkan kita dari mara bahaya?
Lupakah kita dari rezeki yang Allah beri?
Dari nikmat mata yang masih melihat, telinga yang masih mendengar, dari hidung yang masih bernapas, dari lisan yang masih berbicara, dari kaki yang masih melangkah, dari hati yang masih merasa, dari akal yang masih berpikir?
Sungguh bila kita menghitung nikmat Allah takkan terhitung?
Namun mengapa kita masih mengingkari nikmat ini sebagai kasih sayangNya, dengan masih membangkang dari perintahNya?
Bila kita selalu mengingat dan mensyukuri kasih sayang yang diberikan Allah, niscaya kita akan selalu terjaga, selalu merasa cinta padaNya dengan menjalankan perintahNya dan laranganNya ….

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mengingat dan merasakan kasih sayang yang Allah berikan dan menjadi orang yang senantiasa taat kepadaNya .[wahyunugrohox]

Kembali ke Islam

Terkadang masih banyak saja yang meragukan bahwa hancurnya umat Islam, keterpurukan umat Islam adalah karena umat meninggalkan apa yang membuat mereka berjaya di masa lalu yaitu berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, atau lebih tepatnya berpegang kepada Islam.

Dan juga masih banyak yang ragu untuk mengembalikan umat ini berjaya adalah dengan kembali dengan apa yang memajukan umat pada masa sebelumnya, yaitu kembali berpegang terhadap Islam.

Sebagaimana yang di jelaskan oleh Prof. Dr. Raghib as Sirjani dalam buku Sumbagan Peradaban Islam pada Dunia, beliau menjelaskan :

“Dalam kisah peradaban Islami, rahasia terbesar di balik keunggulan dan keberhasilannya adalah adanga ikatan erat dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Kedua sumber rujukan ini merupakan arah yang menguatkan interaksi antara seorang Muslim dengan Rabbnya dan kumpulan masyarakat serta lingkungan alam sekitarnya. Pada keduanya terkandung undang-undang syariat yang mendalam, menjamin tegaknya peradaban seimbang, menakjubkan dalam setiap lini kehidupan. Sampai pada lini materialisme -bersifat kemewahan hidup- juga terhimpun dalam penetapan hukum ini. Dalam sejarah bangsa Arab sebelum Islam, tidaklah terbetik gambaran, mereka akan menjadi pemimpin dunia, menjadi dasar peradaban dunia maju, tidak ada keterangan logika akan keunggulan mereka dan kemajuannya kecuali dengan berpegang teguh kepada Islam dan kaidah-kaidahnya.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Umar al Faruq dalam perkataannya, “Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang rendah, lantas Allah meninggikan kami dengan Islam. Siapa di antara kami yang menuntut ketinggian tanpa dasar yang telah ditinggikan oleh Allab kepada kami, niscaya Allah akan merendahkan kita.” (Al Hakim, al Mustadrak 1/30)

Dari sini kita dapat menjawab pertanyaan dalam benak kita yang membingungkan seluruh pikiran bagi siapa saja yang membaca buku ini (Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia). Yaitu, jika kita dulu pernah mencapai kondisi yang melimpah ruah berupa kemajuan yang menakjubkan, lantas kenapa sekarang kita berada pada titik kelemahan, diliputi berbagai macam krisis, problem, keburukan dan penyimpangan?

Tentu saja jawabannya sangat jelas. Bahwa kaum muslimin telah meninggalkan sebab-sebab kekuatan mereka, melalaikan al Qur’an dan Sunnah, berikut seluruh undang-undang dan hukumnya.”

Penjelasan yang cukup bagi orang-orang yang terbuka mata dan hatinya, bahwa keterpurukan umat terjadi karena meninggalkan Islam dan kemajuan umat juga adalah dengan kembali pada yang meninggikannya yaitu Islam.

Sebagaimana perkataan dari Imam Malik, “Tidak ada hal lain yang bisa memperbaiki umat ini, kecuali dengan apa yang bisa memperbaiki umat pada awalnya.”

Wallahu ‘alam .

Biar Mantep Dulu

Tadi siang saat saya sedang kuliah di kampus tercintah ehehe, kebetulan saya bertemu dengan teman saya yang sedang mengantar istrinya yang satu kampus juga dengan saya. Biasa lah, kita awalnya ngobrol-ngobrol ringan, mengenai pekerjaan, dakwah … dan akhirnya mulai deh membahas nikah .

Awalnya ketika itu istrinya yang sedang ingin sholat menitipkan anaknya ke teman saya itu, “Bi, Umi mau sholat dulu.” Kata istri temen saya itu. Setelah itu dia menghampiri istrinya dan menggendong anaknya itu dari istrinya.

Kemudian dia bilang, “Yu, pengen juga punya beginian -anak maksudnya-” Saya cuma bisa tersenyum aja deh, padahal dalam hati bilang, “Ya pengen lah mas, siapa coba yang gak pengen punya anak.”

Gak lama berselang, temen saya mengatakan hal lain lagi, “Biar mantep dulu yu, supaya nanti istrinya juga mantep.” Jleb!! dalam hati saya. Ia juga dia bilang begitu sih, cuma saya ngaca juga … aku mah apa atuh. Ya, seenggaknya pernyataan temen saya itu emang ada benarnya, tergantung kita menyikapinya aja. Kalau saya sih woles, aja. Gak terlalu dipikirin, kalo gak dipikirin ngapain coba pake nulis di blog ehehehe. Serius deh, yang penting sih kita jalan, action, untung mengejar yang didamba, walau masih dalam alam ghaib namanya, eh udah ada, cuma belum ketemu.

Yang penting sih, kita selalu aja mendekat kepada Allah dan selalu introspeksi diri, berharap yang terbaik diberikan oleh Allah. Masa kalau kita minta jodoh yang bacaan qur’annya bagus, kita gak bisa baca qur’an kan aneh namanya. Kita ingin pasangan yang dakwahnya luar biasa, tapi kita sering mager alias males gerak. Pengen pendamping hidupnya pinter, intelek, nah kita malah males baca, haduh malu deh! Ini sekedar sharing aja ya, gak usah dimasukin ke dalam hati, masukinnya ke dalam hati yang terdalam, sama aja kali. Sebagai seorang yang masih jomblo, saya banyak belajar dari kawan yang sudah menikah, dari pengalaman hidup orang lain, dan masih banyak hikmah dan pelajaran yang pastinya bisa kita petik, hidup ini sebenarnya adalah madrasatu al hayah atau sekolah kehidupan, yang kita bisa belajar banyak darinya. Jadi teringat kata-kata seorang abang yang datang jauh-jauh dari Riau, pernah bilang, “Kita belajar dari pengalaman orang lain, tanpa harus melakukan.” wiiih dalem, sedalam cintamu padanya! [wahyunugrohox]

Untuk Engkau

Engkau yang menjadikan akal di depan kepalamu, padahal engkau telah memahami kepalamu harus tunduk pada hukum, kenapa kau masih berlaku demikian?

Ketika ada hukum yang sesuai dengan hawa nafsumu, engkau terima hukum tersebut dan kau kampanyekan sehingga dirimu terlihat seperti orang yang paling memahami dan paling menjalankan hukum tersebut … padahal engkau cuma ingin dibilang ‘alim’ ‘sholeh’ dan gelar yang lainnya.

Namun ketika ada hukum yang bertentangan dengan nafsumu, engkau buang dan engkau sembunyikan perilaku menyimpangmu serta mengatakan di depan khalayak engkau menerima dan menjalankan hukum tersebut … padahal engkau berdusta.

Sungguh rendah perilakumu wahai pendusta!!!

Engkau berkata baik, mengajak yang baik … namun pada saat yang sama engkau lalai dan melupakan dirimu .. tidakkah kau berpikir? tidakkah kau merungkan itu?

Atau hatimu tertutup hijab kesombongan lagi hijab kesesatan sehingga hatimu keras seperti batu bahkan lebih keras lagi, dan kebenaran pun enggan masuk ke dalam hatimu yang kotor lagi najis itu.

Padahal kebenaran sudah beredar di sekitarmu, namun memang enggkau enggan dan hatimu sakit.

Sadarlah wahai yang di hatinya berpenyakit … kembalilah pada Rabbmu .. selagi engkau masih memiliki kesempatan itu … menuju ampunan dari Tuhanmu …

@wahyunugrohox

Sabtu, 09 Mei 2015 … 15.31 WIB

Kisah Seorang Gadis dan Isi Tasnya

tangisan-gadisPihak sekolah SMA Putri di kota Shan’a’ yang merupakan ibu kota Yaman menetapkan kebijakan adanya pemeriksaan mendadak bagi seluruh siswi di dalam kelas. Sebagaimana yang ditegaskan oleh salah seorang pegawai sekolah bahwa tentunya pemeriksaan itu bertujuan merazia barang-barang yang di larang di bawa ke dalam sekolah, seperti : telepon genggam yang di lengkapi dengan kamera, foto-foto, surat-surat, alat-alat kecantikan dan lain sebagainya. Yang mana seharusnya memang sebuah lembaga pendidikan sebagai pusat ilmu bukan untuk hal-hal yang tidak baik..

Lantas pihak sekolah pun melakukan sweeping di seluruh kelas dengan penuh semangat. Mereka keluar kelas, masuk kelas lain. Sementara tas para siswi terbuka di hadapan mereka. Tas-tas tersebut tidak berisi apapun melainkan beberapa buku, pulpen, dan peralatan sekolah lainnya..

Semua kelas sudah dirazia, hanya tersisa satu kelas saja. Dimana kelas tersebut terdapat seorang siswi yang menceritakan kisah ini. Apa gerangan yang terjadi ?! Continue reading

Janganlah Mengikuti Jalan-Jalan Setan, Nasihat Untuk Ikhwan dan Akhwat yang Menjalin Rasa

cinta dalam diamUstadz Burhan Shadiq saat bedah buku Karena Cinta Harus Memilih, bercerita tentang seorang akhwat, dia hafizhah, bercadar dan seorang ikhwan, seorang hafizh. Suatu ketika, setelah acara dauroh, sang ikhwan menghubungi si akhwat melalui sms, “Ukhti lagi di mana? Sama siapa? Kita jalan-jalan yuk?”

“Jalan-jalan ke mana?” Balas si akhwat.
“Kita keliling kota aja.” Ajak si ikhwan.
Mereka pun akhirnya pergi berdua, dengan dibonceng si akhwat, karena si ikhwan gak bisa naik motor, keliling kota dibonceng akhwat bercadar.
Dan di tengah perjalanan ternyata hujan, dan mereka pun menenuh. Namun, bukan sembarang meneduh, mereka meneduh di hotel. Continue reading

Mikir Sejenak

Terkadang ada masalah yang penyebabnya disebabkan individu, dan penyebabnya sistemik .

Kalau masalah yang penyebabnya individu, solusinya perbaiki individu tersebut .

Contoh, kalau ada orang yang kelakuannya buruk, susah dinasihati, gemar maksiat, males-malesan, itu masalah individu, kalau mau dia baik ya perbaiki dia mulai dari akidahnya, keterikatannya dengan syariat .

Namun, ada juga masalah yang penyebabnya sistemik, kalau sudah seperti ini sistemnya yang harus diperbaiki, atau bisa juga sistemnya diganti . Continue reading