Monthly Archives: September 2015

Apakah di Dunia Saat Ini Terdapat Sebuah Negara Islam, seperti Arab Saudi, Iran, Pakistan, atau Afghanistan (Ketika Berada dalam Kekuasaan Taliban)?

lailahailallahTidak. Yang ada hanyalah sejumlah negeri Muslim, yang menerapkan beberapa aspek hukum Islam, sebagian besarnya merupakan bagian dari hukum syariat tentang keluarga. Belum ada satu pun negara di dunia saat ini yang mengambil seluruh hukum dan kebijakannya semata-mata berdasarkan nash-nash Islam.

Di Pakistan, hukum Islam hanya dirujuk ketika hendak menyelesaikan persoalan-persoalan keluarga, atau sekadar untuk menunjukkan kepedulian simbolik terhadap perasaan-perasaan Islam, sebagaimana tampak dalam debat seputar sanksi hudud. Ini merupakan cara-cara penguasa korup Pakistan berikutmajikan-majikan mereka di Barat dan media massa untuk menunjukkan bahwa hukum Islam tidak bisa berfungsi dan tidak dapat digunakan untuk mengatur masyarakat.[1]

Arab Saudi memang menyumbangkan jutaan kopi mushafal-Qur’an, buku-buku Islam, sejumlah besar dana untuk membangun masjid di seluruh penjuru dunia, dan sebagainya. Meski demikian, Arab Saudi mencampuradukkan hukum, sebagian hukum Islam dan sebagian yang lain hukum buatan manusia. Untuk menjaga perasaan Islam, Arab Saudi tidak menyebut aturan buatan manusia itu dengan istilah “hukum”. Saudi menggunakan sejumlah terminologi untuk membedakan antara hukum Islam dengan hukum buatan manusia. Dalam salah satu buku berbahasa Arab tentangkonstitusi Arab Saudi, penyusun buku menyatakan, “Istilah undangundang (qanun) dan perundangan (tasyri’) hanya digunakan di Saudi, untuk menyebutaturan-aturan yang berasal dari syariat Islam… Adapun berbagai aturan buatan manusia disebut anzhimah, atau keputusan (ta’limaat), atau perintah (awamir)…”[2] Di samping itu, Arab Saudi merupakan sebuah kerajaan yang kekuasaannya beralih secara turun-temurun, kerajaan yang menggunakan pilar-pilar agama sebagai alat untuk mengendalikan kekuatan oposisi demi agenda-agenda kapitalis dan pro-Barat.

Demikian pula, Taliban menerapkan sebagian hukum Islam. Ketika memegang kekuasaan penuh atas Afghanistan, Taliban pernah menyatakan bahwa mereka tidak bermaksud untuk mendirikan sistem Khilafah-yang merupakan bentuk sistem pemerintahan dalam Islam – akan tetapi hanya mendirikan ke-Emiran, yakni sebuah institusi politik yang menerapkan serangkaian hukum tertentu di sebuah wilayah, tanpa kebijakan politik luar negeri. Padahal, sistem pemerintahan Islam mengharuskan diterapkannya seluruh syariat Islam, termasuk sistem ekonomi, pergaulan, pemerintahan, sekaligus berusaha mewujudkan tujuan politik luar negerinya. Khilafah bukanlah negara yang mengisolasi diri.

Konstitusi Iran memang memuat pasal-pasal yang bersesuaian dengan Islam, namun ada pula yang bertolak belakang dengan Islam. Pasal 6 Konstitusi Iran menyatakan, “..Republik Islam Iran, berbagai urusan negara harus dilaksanakan berdasarkan pendapat masyarakat yang ditunjukkan melalui pemilihan umum, termasuk pemilihan presiden, pemilihan para anggota majelis syura dan anggota dewan, atau melalui proses referendum terhadap persoalan-persoalan tertentu yang diatur dalam pasal lain dalam konstitusi ini.” Sistem pemerintahan Islam-yaitu Khilafah-wajib sepenuhnya merujuk pada nash-nash syara’. Tidak demikian halnya dengan realitas sistem pemerintahan Iran, ketika konstitusinya menyatakan, “…berbagai urusan negara harus dilaksanakan berdasarkan pendapat masyarakat yang ditunjukkan melalui pemilihan umum…” Dalam Islam, berbagai urusan negara harus dilaksanakan berdasarkan syariat Islam, bukan pendapat masyarakat yang ditunjukkan melalui pemilu.

[1] Lebih lanjut bisa dibaca pada “The Methodology of Hizbut-Tahrir for Change”, Hizbut Tahrir

[2] “The Constitutional Laws of the Arab Countries,” bab “The Constitution of the Kingdom of Saudi Arabia.”

Sumber : Adnan Khan, 100 Soal Jawab Seputar Negara Khilafah

Apakah Hukum Syariat Sudah Ketinggalan Zaman?

padang-apasirIslam memandang bahwa manusia, yang memiliki dorongan naluriah (instink) dan kebutuhan asasi, senantiasa menghadapi persoalan tentang bagaimana mereka memenuhi kedua dorongan tersebut. Nash-nash syara turun untuk kaum pria dan wanita sebagai individu manusia, bukan hanya mereka yang hidup pada abad ke-7 M di padang pasir Arabia. Nash-nash syara’ bukan hanya diturunkan untuk manusia yang hidup pada masa tertentu atau ditempat tertentu. Manusia yang hidup pada masa sekarang tidak berbeda dengan manusia yang hidup 1400 tahun yang lalu, dan tetap akan sama dengan manusia yang hidup 1400 tahun yang akan datang.[1]

Tidak ada keraguan bahwa dunia saat ini sama sekali berbeda dengan dunia pada masa kemunculan dan perkembangan Islam. Gaya hidup manusia masa kini tentu juga berbeda dengan gaya hidup manusia zaman dulu. Pada masa lalu manusia tinggal di rumah-rumah gubuk, sementara manusia modern hidup di gedung-gedung pencakar langit. Namun demikian, satu hal yang sama, kita memerlukan tempat tinggal dan atap yang menaungi kepala kita. Pada masa lalu, Rasulullah saw mengirimkan para utusan untuk menemui para penguasa dengan mengendarai kuda; sedangkan pada masa sekarang, surat atau pesan bisa disampaikan melalui email, IM, fax, atau SMS. Rasulullah Muhammad saw dan para sahabatnya bertempur diberbagaimedan perang menggunakan kuda, busur, dan anak panah; sedangkan peperangan saat ini masih juga berlangsung, namun sudah memanfaatkan teknologi “pintar”, peluru kendalijelajah dan satelit matamata. Pada masa lalu, kaum Muslim harus mempelajari astronomi untuk bisa mengetahui arah kiblat, di mana pun mereka berada; sementara saat ini arah kiblat bisa diketahui hanya dengan menggunakan sebuah jam tangan elektronik. Ini semua menunjukkan bahwa manusia, terkait dengan kebutuhan-kebutuhannya, adalah makhluk yang sama dari waktu ke waktu. Demikian pula, persoalanpersoalan yang mereka hadapi juga tidak berubah. Perubahan-perubahan yang kita indera hanya terjadi dalam halalatatau perlengkapan yang digunakan manusia untuk menyelesaikan persoalannya.

Ukuran waktu saja tidak cukup untuk menjadikan sebuah pemikiran tak lagi sahih, karena sahih atau tidaknya sebuah pemikiran tidak tergantung pada waktu. Bangkitnya kembali filsafat, seni, dan peradaban Yunani Kuno, yang kemudian dikenal dengan Renaissance, terjadi pada abad ke-16 M di Eropa. Sebagian besar perundangundangan yang kita dapati saat ini di seluruh penjuru Dunia Barat diketahui mempunyai sumber tradisi tertulis yang usianya tiga abad, dan dianggap masih valid hingga kini. Sebagai contoh:

  • Bill of Rights di AS yang disahkan pada tahun 1791 M merefleksikan adanya jaminan atas perlakuan secara adil yang diambil dari Magna Charta (1215 M).
  • Hukum Sipil (Civil Law) modern yang disusun berdasarkan teori liabilitas yang bersumber pada Hukum Romawi.
  • Hukum Umum (Common Law) yang mempunyai prinsip penyelesaian kasus berdasarkan keputusan hukum sebelumnya, sesungguhnya bersumber pada Hukum Romawi pada Abad Pertengahan, dan mendapat pengaruh Peradaban Norman Saxon. Sampai hari ini sistem hukum ini masih menjadi sumber perundang-undangan yang berlaku di Inggris, AS, dan Kanada.

Menurut perspektif ini, mestinya demokrasi juga dianggap sudah kadaluarsa karena bersumber pada konsep-konsep kuno. Dengan demikian, kenyataan bahwa Islam muncul pada abad ke-7 M di Jazirah Arab bukanlah sebuah argumentasi bagi ketidaksesuaiannya dengan masyarakat modern. Karena nash-nash syara’ berurusan dengan manusia dan persoalannya, bukan dengan berbagai peralatan yang mereka gunakan untuk menyelesaikan persoalannya. Karena itu syariat Islam tetap relevan bagi umat manusia saat ini, persis sebagaimana dulu ia pernah mengangkat derajat orang-orang Arab.[2]

Catatan Kaki :

[1] Lebih lanjut bisa membaca “Islamic Reformation, the battle for hearts and minds”, khilafah.com

[2] Lebih lanjut bisa dibaca pada “Islam in the 21st Century”, khilafah.com

Sumber : Adnan Khan, 100 Soal Jawab Seputar Negara Khilafah

Kasih Sayang Allah Melebihi Orang Tua

Cinta AllahKebaikan orang tua kita pastinya banyak dari kita merasakannya, mulai dari kita masih di kandungan, tumbuh dan berkembang hingga kita bisa menjadi seperti ini.
Tahukah kita apa yang telah mereka perbuat untuk kita?
Mereka rela menahan lelah, menahan lapar hanya untuk buah hatinya tercinta, hanya untuk melihat buah hatinya tumbuh dan berkembang dengan sehat, melihat canda tawa kita saja mereka sudah sangat bahagia. Mereka pun rela mengorbankan tenaga, harta dan segalanya agar kita bisa sekolah, hingga kita dewasa … Orang tua kita masih menaruh perhatian pada kita, entah kita merasa ataupun tidak …

Apakah kita tak merasakan bagaimana dengan kasih sayang Allah yang telah diberikanNya?
Allah memberi kita segala yang kita butuhkan .. Udara, air, kehidupan, cahaya, rezeki pun Allah yang memberikan .
Apakah kita lupa siapa yang memberi pertolongan ketika kita lahir di dunia ini, ketika Ibunda kita melahirkan kita?
Jika Allah berkehendak, mudahlah bagiNya untuk menggagalkan kelahiran kita, dengan keduanya meninggal atau salah satunya .
Lupakah kita ketika Allah menyelamatkan kita dari mara bahaya?
Lupakah kita dari rezeki yang Allah beri?
Dari nikmat mata yang masih melihat, telinga yang masih mendengar, dari hidung yang masih bernapas, dari lisan yang masih berbicara, dari kaki yang masih melangkah, dari hati yang masih merasa, dari akal yang masih berpikir?
Sungguh bila kita menghitung nikmat Allah takkan terhitung?
Namun mengapa kita masih mengingkari nikmat ini sebagai kasih sayangNya, dengan masih membangkang dari perintahNya?
Bila kita selalu mengingat dan mensyukuri kasih sayang yang diberikan Allah, niscaya kita akan selalu terjaga, selalu merasa cinta padaNya dengan menjalankan perintahNya dan laranganNya ….

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mengingat dan merasakan kasih sayang yang Allah berikan dan menjadi orang yang senantiasa taat kepadaNya .[wahyunugrohox]