Monthly Archives: June 2015

Kembali ke Islam

Terkadang masih banyak saja yang meragukan bahwa hancurnya umat Islam, keterpurukan umat Islam adalah karena umat meninggalkan apa yang membuat mereka berjaya di masa lalu yaitu berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, atau lebih tepatnya berpegang kepada Islam.

Dan juga masih banyak yang ragu untuk mengembalikan umat ini berjaya adalah dengan kembali dengan apa yang memajukan umat pada masa sebelumnya, yaitu kembali berpegang terhadap Islam.

Sebagaimana yang di jelaskan oleh Prof. Dr. Raghib as Sirjani dalam buku Sumbagan Peradaban Islam pada Dunia, beliau menjelaskan :

“Dalam kisah peradaban Islami, rahasia terbesar di balik keunggulan dan keberhasilannya adalah adanga ikatan erat dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Kedua sumber rujukan ini merupakan arah yang menguatkan interaksi antara seorang Muslim dengan Rabbnya dan kumpulan masyarakat serta lingkungan alam sekitarnya. Pada keduanya terkandung undang-undang syariat yang mendalam, menjamin tegaknya peradaban seimbang, menakjubkan dalam setiap lini kehidupan. Sampai pada lini materialisme -bersifat kemewahan hidup- juga terhimpun dalam penetapan hukum ini. Dalam sejarah bangsa Arab sebelum Islam, tidaklah terbetik gambaran, mereka akan menjadi pemimpin dunia, menjadi dasar peradaban dunia maju, tidak ada keterangan logika akan keunggulan mereka dan kemajuannya kecuali dengan berpegang teguh kepada Islam dan kaidah-kaidahnya.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Umar al Faruq dalam perkataannya, “Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang rendah, lantas Allah meninggikan kami dengan Islam. Siapa di antara kami yang menuntut ketinggian tanpa dasar yang telah ditinggikan oleh Allab kepada kami, niscaya Allah akan merendahkan kita.” (Al Hakim, al Mustadrak 1/30)

Dari sini kita dapat menjawab pertanyaan dalam benak kita yang membingungkan seluruh pikiran bagi siapa saja yang membaca buku ini (Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia). Yaitu, jika kita dulu pernah mencapai kondisi yang melimpah ruah berupa kemajuan yang menakjubkan, lantas kenapa sekarang kita berada pada titik kelemahan, diliputi berbagai macam krisis, problem, keburukan dan penyimpangan?

Tentu saja jawabannya sangat jelas. Bahwa kaum muslimin telah meninggalkan sebab-sebab kekuatan mereka, melalaikan al Qur’an dan Sunnah, berikut seluruh undang-undang dan hukumnya.”

Penjelasan yang cukup bagi orang-orang yang terbuka mata dan hatinya, bahwa keterpurukan umat terjadi karena meninggalkan Islam dan kemajuan umat juga adalah dengan kembali pada yang meninggikannya yaitu Islam.

Sebagaimana perkataan dari Imam Malik, “Tidak ada hal lain yang bisa memperbaiki umat ini, kecuali dengan apa yang bisa memperbaiki umat pada awalnya.”

Wallahu ‘alam .

Biar Mantep Dulu

Tadi siang saat saya sedang kuliah di kampus tercintah ehehe, kebetulan saya bertemu dengan teman saya yang sedang mengantar istrinya yang satu kampus juga dengan saya. Biasa lah, kita awalnya ngobrol-ngobrol ringan, mengenai pekerjaan, dakwah … dan akhirnya mulai deh membahas nikah .

Awalnya ketika itu istrinya yang sedang ingin sholat menitipkan anaknya ke teman saya itu, “Bi, Umi mau sholat dulu.” Kata istri temen saya itu. Setelah itu dia menghampiri istrinya dan menggendong anaknya itu dari istrinya.

Kemudian dia bilang, “Yu, pengen juga punya beginian -anak maksudnya-” Saya cuma bisa tersenyum aja deh, padahal dalam hati bilang, “Ya pengen lah mas, siapa coba yang gak pengen punya anak.”

Gak lama berselang, temen saya mengatakan hal lain lagi, “Biar mantep dulu yu, supaya nanti istrinya juga mantep.” Jleb!! dalam hati saya. Ia juga dia bilang begitu sih, cuma saya ngaca juga … aku mah apa atuh. Ya, seenggaknya pernyataan temen saya itu emang ada benarnya, tergantung kita menyikapinya aja. Kalau saya sih woles, aja. Gak terlalu dipikirin, kalo gak dipikirin ngapain coba pake nulis di blog ehehehe. Serius deh, yang penting sih kita jalan, action, untung mengejar yang didamba, walau masih dalam alam ghaib namanya, eh udah ada, cuma belum ketemu.

Yang penting sih, kita selalu aja mendekat kepada Allah dan selalu introspeksi diri, berharap yang terbaik diberikan oleh Allah. Masa kalau kita minta jodoh yang bacaan qur’annya bagus, kita gak bisa baca qur’an kan aneh namanya. Kita ingin pasangan yang dakwahnya luar biasa, tapi kita sering mager alias males gerak. Pengen pendamping hidupnya pinter, intelek, nah kita malah males baca, haduh malu deh! Ini sekedar sharing aja ya, gak usah dimasukin ke dalam hati, masukinnya ke dalam hati yang terdalam, sama aja kali. Sebagai seorang yang masih jomblo, saya banyak belajar dari kawan yang sudah menikah, dari pengalaman hidup orang lain, dan masih banyak hikmah dan pelajaran yang pastinya bisa kita petik, hidup ini sebenarnya adalah madrasatu al hayah atau sekolah kehidupan, yang kita bisa belajar banyak darinya. Jadi teringat kata-kata seorang abang yang datang jauh-jauh dari Riau, pernah bilang, “Kita belajar dari pengalaman orang lain, tanpa harus melakukan.” wiiih dalem, sedalam cintamu padanya! [wahyunugrohox]