Apakah di Dunia Saat Ini Terdapat Sebuah Negara Islam, seperti Arab Saudi, Iran, Pakistan, atau Afghanistan (Ketika Berada dalam Kekuasaan Taliban)?

lailahailallahTidak. Yang ada hanyalah sejumlah negeri Muslim, yang menerapkan beberapa aspek hukum Islam, sebagian besarnya merupakan bagian dari hukum syariat tentang keluarga. Belum ada satu pun negara di dunia saat ini yang mengambil seluruh hukum dan kebijakannya semata-mata berdasarkan nash-nash Islam.

Di Pakistan, hukum Islam hanya dirujuk ketika hendak menyelesaikan persoalan-persoalan keluarga, atau sekadar untuk menunjukkan kepedulian simbolik terhadap perasaan-perasaan Islam, sebagaimana tampak dalam debat seputar sanksi hudud. Ini merupakan cara-cara penguasa korup Pakistan berikutmajikan-majikan mereka di Barat dan media massa untuk menunjukkan bahwa hukum Islam tidak bisa berfungsi dan tidak dapat digunakan untuk mengatur masyarakat.[1]

Arab Saudi memang menyumbangkan jutaan kopi mushafal-Qur’an, buku-buku Islam, sejumlah besar dana untuk membangun masjid di seluruh penjuru dunia, dan sebagainya. Meski demikian, Arab Saudi mencampuradukkan hukum, sebagian hukum Islam dan sebagian yang lain hukum buatan manusia. Untuk menjaga perasaan Islam, Arab Saudi tidak menyebut aturan buatan manusia itu dengan istilah “hukum”. Saudi menggunakan sejumlah terminologi untuk membedakan antara hukum Islam dengan hukum buatan manusia. Dalam salah satu buku berbahasa Arab tentangkonstitusi Arab Saudi, penyusun buku menyatakan, “Istilah undangundang (qanun) dan perundangan (tasyri’) hanya digunakan di Saudi, untuk menyebutaturan-aturan yang berasal dari syariat Islam… Adapun berbagai aturan buatan manusia disebut anzhimah, atau keputusan (ta’limaat), atau perintah (awamir)…”[2] Di samping itu, Arab Saudi merupakan sebuah kerajaan yang kekuasaannya beralih secara turun-temurun, kerajaan yang menggunakan pilar-pilar agama sebagai alat untuk mengendalikan kekuatan oposisi demi agenda-agenda kapitalis dan pro-Barat.

Demikian pula, Taliban menerapkan sebagian hukum Islam. Ketika memegang kekuasaan penuh atas Afghanistan, Taliban pernah menyatakan bahwa mereka tidak bermaksud untuk mendirikan sistem Khilafah-yang merupakan bentuk sistem pemerintahan dalam Islam – akan tetapi hanya mendirikan ke-Emiran, yakni sebuah institusi politik yang menerapkan serangkaian hukum tertentu di sebuah wilayah, tanpa kebijakan politik luar negeri. Padahal, sistem pemerintahan Islam mengharuskan diterapkannya seluruh syariat Islam, termasuk sistem ekonomi, pergaulan, pemerintahan, sekaligus berusaha mewujudkan tujuan politik luar negerinya. Khilafah bukanlah negara yang mengisolasi diri.

Konstitusi Iran memang memuat pasal-pasal yang bersesuaian dengan Islam, namun ada pula yang bertolak belakang dengan Islam. Pasal 6 Konstitusi Iran menyatakan, “..Republik Islam Iran, berbagai urusan negara harus dilaksanakan berdasarkan pendapat masyarakat yang ditunjukkan melalui pemilihan umum, termasuk pemilihan presiden, pemilihan para anggota majelis syura dan anggota dewan, atau melalui proses referendum terhadap persoalan-persoalan tertentu yang diatur dalam pasal lain dalam konstitusi ini.” Sistem pemerintahan Islam-yaitu Khilafah-wajib sepenuhnya merujuk pada nash-nash syara’. Tidak demikian halnya dengan realitas sistem pemerintahan Iran, ketika konstitusinya menyatakan, “…berbagai urusan negara harus dilaksanakan berdasarkan pendapat masyarakat yang ditunjukkan melalui pemilihan umum…” Dalam Islam, berbagai urusan negara harus dilaksanakan berdasarkan syariat Islam, bukan pendapat masyarakat yang ditunjukkan melalui pemilu.

[1] Lebih lanjut bisa dibaca pada “The Methodology of Hizbut-Tahrir for Change”, Hizbut Tahrir

[2] “The Constitutional Laws of the Arab Countries,” bab “The Constitution of the Kingdom of Saudi Arabia.”

Sumber : Adnan Khan, 100 Soal Jawab Seputar Negara Khilafah

Apakah Hukum Syariat Sudah Ketinggalan Zaman?

padang-apasirIslam memandang bahwa manusia, yang memiliki dorongan naluriah (instink) dan kebutuhan asasi, senantiasa menghadapi persoalan tentang bagaimana mereka memenuhi kedua dorongan tersebut. Nash-nash syara turun untuk kaum pria dan wanita sebagai individu manusia, bukan hanya mereka yang hidup pada abad ke-7 M di padang pasir Arabia. Nash-nash syara’ bukan hanya diturunkan untuk manusia yang hidup pada masa tertentu atau ditempat tertentu. Manusia yang hidup pada masa sekarang tidak berbeda dengan manusia yang hidup 1400 tahun yang lalu, dan tetap akan sama dengan manusia yang hidup 1400 tahun yang akan datang.[1]

Tidak ada keraguan bahwa dunia saat ini sama sekali berbeda dengan dunia pada masa kemunculan dan perkembangan Islam. Gaya hidup manusia masa kini tentu juga berbeda dengan gaya hidup manusia zaman dulu. Pada masa lalu manusia tinggal di rumah-rumah gubuk, sementara manusia modern hidup di gedung-gedung pencakar langit. Namun demikian, satu hal yang sama, kita memerlukan tempat tinggal dan atap yang menaungi kepala kita. Pada masa lalu, Rasulullah saw mengirimkan para utusan untuk menemui para penguasa dengan mengendarai kuda; sedangkan pada masa sekarang, surat atau pesan bisa disampaikan melalui email, IM, fax, atau SMS. Rasulullah Muhammad saw dan para sahabatnya bertempur diberbagaimedan perang menggunakan kuda, busur, dan anak panah; sedangkan peperangan saat ini masih juga berlangsung, namun sudah memanfaatkan teknologi “pintar”, peluru kendalijelajah dan satelit matamata. Pada masa lalu, kaum Muslim harus mempelajari astronomi untuk bisa mengetahui arah kiblat, di mana pun mereka berada; sementara saat ini arah kiblat bisa diketahui hanya dengan menggunakan sebuah jam tangan elektronik. Ini semua menunjukkan bahwa manusia, terkait dengan kebutuhan-kebutuhannya, adalah makhluk yang sama dari waktu ke waktu. Demikian pula, persoalanpersoalan yang mereka hadapi juga tidak berubah. Perubahan-perubahan yang kita indera hanya terjadi dalam halalatatau perlengkapan yang digunakan manusia untuk menyelesaikan persoalannya.

Ukuran waktu saja tidak cukup untuk menjadikan sebuah pemikiran tak lagi sahih, karena sahih atau tidaknya sebuah pemikiran tidak tergantung pada waktu. Bangkitnya kembali filsafat, seni, dan peradaban Yunani Kuno, yang kemudian dikenal dengan Renaissance, terjadi pada abad ke-16 M di Eropa. Sebagian besar perundangundangan yang kita dapati saat ini di seluruh penjuru Dunia Barat diketahui mempunyai sumber tradisi tertulis yang usianya tiga abad, dan dianggap masih valid hingga kini. Sebagai contoh:

  • Bill of Rights di AS yang disahkan pada tahun 1791 M merefleksikan adanya jaminan atas perlakuan secara adil yang diambil dari Magna Charta (1215 M).
  • Hukum Sipil (Civil Law) modern yang disusun berdasarkan teori liabilitas yang bersumber pada Hukum Romawi.
  • Hukum Umum (Common Law) yang mempunyai prinsip penyelesaian kasus berdasarkan keputusan hukum sebelumnya, sesungguhnya bersumber pada Hukum Romawi pada Abad Pertengahan, dan mendapat pengaruh Peradaban Norman Saxon. Sampai hari ini sistem hukum ini masih menjadi sumber perundang-undangan yang berlaku di Inggris, AS, dan Kanada.

Menurut perspektif ini, mestinya demokrasi juga dianggap sudah kadaluarsa karena bersumber pada konsep-konsep kuno. Dengan demikian, kenyataan bahwa Islam muncul pada abad ke-7 M di Jazirah Arab bukanlah sebuah argumentasi bagi ketidaksesuaiannya dengan masyarakat modern. Karena nash-nash syara’ berurusan dengan manusia dan persoalannya, bukan dengan berbagai peralatan yang mereka gunakan untuk menyelesaikan persoalannya. Karena itu syariat Islam tetap relevan bagi umat manusia saat ini, persis sebagaimana dulu ia pernah mengangkat derajat orang-orang Arab.[2]

Catatan Kaki :

[1] Lebih lanjut bisa membaca “Islamic Reformation, the battle for hearts and minds”, khilafah.com

[2] Lebih lanjut bisa dibaca pada “Islam in the 21st Century”, khilafah.com

Sumber : Adnan Khan, 100 Soal Jawab Seputar Negara Khilafah

Kasih Sayang Allah Melebihi Orang Tua

Cinta AllahKebaikan orang tua kita pastinya banyak dari kita merasakannya, mulai dari kita masih di kandungan, tumbuh dan berkembang hingga kita bisa menjadi seperti ini.
Tahukah kita apa yang telah mereka perbuat untuk kita?
Mereka rela menahan lelah, menahan lapar hanya untuk buah hatinya tercinta, hanya untuk melihat buah hatinya tumbuh dan berkembang dengan sehat, melihat canda tawa kita saja mereka sudah sangat bahagia. Mereka pun rela mengorbankan tenaga, harta dan segalanya agar kita bisa sekolah, hingga kita dewasa … Orang tua kita masih menaruh perhatian pada kita, entah kita merasa ataupun tidak …

Apakah kita tak merasakan bagaimana dengan kasih sayang Allah yang telah diberikanNya?
Allah memberi kita segala yang kita butuhkan .. Udara, air, kehidupan, cahaya, rezeki pun Allah yang memberikan .
Apakah kita lupa siapa yang memberi pertolongan ketika kita lahir di dunia ini, ketika Ibunda kita melahirkan kita?
Jika Allah berkehendak, mudahlah bagiNya untuk menggagalkan kelahiran kita, dengan keduanya meninggal atau salah satunya .
Lupakah kita ketika Allah menyelamatkan kita dari mara bahaya?
Lupakah kita dari rezeki yang Allah beri?
Dari nikmat mata yang masih melihat, telinga yang masih mendengar, dari hidung yang masih bernapas, dari lisan yang masih berbicara, dari kaki yang masih melangkah, dari hati yang masih merasa, dari akal yang masih berpikir?
Sungguh bila kita menghitung nikmat Allah takkan terhitung?
Namun mengapa kita masih mengingkari nikmat ini sebagai kasih sayangNya, dengan masih membangkang dari perintahNya?
Bila kita selalu mengingat dan mensyukuri kasih sayang yang diberikan Allah, niscaya kita akan selalu terjaga, selalu merasa cinta padaNya dengan menjalankan perintahNya dan laranganNya ….

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mengingat dan merasakan kasih sayang yang Allah berikan dan menjadi orang yang senantiasa taat kepadaNya .[wahyunugrohox]

Kembali ke Islam

Terkadang masih banyak saja yang meragukan bahwa hancurnya umat Islam, keterpurukan umat Islam adalah karena umat meninggalkan apa yang membuat mereka berjaya di masa lalu yaitu berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, atau lebih tepatnya berpegang kepada Islam.

Dan juga masih banyak yang ragu untuk mengembalikan umat ini berjaya adalah dengan kembali dengan apa yang memajukan umat pada masa sebelumnya, yaitu kembali berpegang terhadap Islam.

Sebagaimana yang di jelaskan oleh Prof. Dr. Raghib as Sirjani dalam buku Sumbagan Peradaban Islam pada Dunia, beliau menjelaskan :

“Dalam kisah peradaban Islami, rahasia terbesar di balik keunggulan dan keberhasilannya adalah adanga ikatan erat dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Kedua sumber rujukan ini merupakan arah yang menguatkan interaksi antara seorang Muslim dengan Rabbnya dan kumpulan masyarakat serta lingkungan alam sekitarnya. Pada keduanya terkandung undang-undang syariat yang mendalam, menjamin tegaknya peradaban seimbang, menakjubkan dalam setiap lini kehidupan. Sampai pada lini materialisme -bersifat kemewahan hidup- juga terhimpun dalam penetapan hukum ini. Dalam sejarah bangsa Arab sebelum Islam, tidaklah terbetik gambaran, mereka akan menjadi pemimpin dunia, menjadi dasar peradaban dunia maju, tidak ada keterangan logika akan keunggulan mereka dan kemajuannya kecuali dengan berpegang teguh kepada Islam dan kaidah-kaidahnya.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Umar al Faruq dalam perkataannya, “Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang rendah, lantas Allah meninggikan kami dengan Islam. Siapa di antara kami yang menuntut ketinggian tanpa dasar yang telah ditinggikan oleh Allab kepada kami, niscaya Allah akan merendahkan kita.” (Al Hakim, al Mustadrak 1/30)

Dari sini kita dapat menjawab pertanyaan dalam benak kita yang membingungkan seluruh pikiran bagi siapa saja yang membaca buku ini (Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia). Yaitu, jika kita dulu pernah mencapai kondisi yang melimpah ruah berupa kemajuan yang menakjubkan, lantas kenapa sekarang kita berada pada titik kelemahan, diliputi berbagai macam krisis, problem, keburukan dan penyimpangan?

Tentu saja jawabannya sangat jelas. Bahwa kaum muslimin telah meninggalkan sebab-sebab kekuatan mereka, melalaikan al Qur’an dan Sunnah, berikut seluruh undang-undang dan hukumnya.”

Penjelasan yang cukup bagi orang-orang yang terbuka mata dan hatinya, bahwa keterpurukan umat terjadi karena meninggalkan Islam dan kemajuan umat juga adalah dengan kembali pada yang meninggikannya yaitu Islam.

Sebagaimana perkataan dari Imam Malik, “Tidak ada hal lain yang bisa memperbaiki umat ini, kecuali dengan apa yang bisa memperbaiki umat pada awalnya.”

Wallahu ‘alam .

Biar Mantep Dulu

Tadi siang saat saya sedang kuliah di kampus tercintah ehehe, kebetulan saya bertemu dengan teman saya yang sedang mengantar istrinya yang satu kampus juga dengan saya. Biasa lah, kita awalnya ngobrol-ngobrol ringan, mengenai pekerjaan, dakwah … dan akhirnya mulai deh membahas nikah .

Awalnya ketika itu istrinya yang sedang ingin sholat menitipkan anaknya ke teman saya itu, “Bi, Umi mau sholat dulu.” Kata istri temen saya itu. Setelah itu dia menghampiri istrinya dan menggendong anaknya itu dari istrinya.

Kemudian dia bilang, “Yu, pengen juga punya beginian -anak maksudnya-” Saya cuma bisa tersenyum aja deh, padahal dalam hati bilang, “Ya pengen lah mas, siapa coba yang gak pengen punya anak.”

Gak lama berselang, temen saya mengatakan hal lain lagi, “Biar mantep dulu yu, supaya nanti istrinya juga mantep.” Jleb!! dalam hati saya. Ia juga dia bilang begitu sih, cuma saya ngaca juga … aku mah apa atuh. Ya, seenggaknya pernyataan temen saya itu emang ada benarnya, tergantung kita menyikapinya aja. Kalau saya sih woles, aja. Gak terlalu dipikirin, kalo gak dipikirin ngapain coba pake nulis di blog ehehehe. Serius deh, yang penting sih kita jalan, action, untung mengejar yang didamba, walau masih dalam alam ghaib namanya, eh udah ada, cuma belum ketemu.

Yang penting sih, kita selalu aja mendekat kepada Allah dan selalu introspeksi diri, berharap yang terbaik diberikan oleh Allah. Masa kalau kita minta jodoh yang bacaan qur’annya bagus, kita gak bisa baca qur’an kan aneh namanya. Kita ingin pasangan yang dakwahnya luar biasa, tapi kita sering mager alias males gerak. Pengen pendamping hidupnya pinter, intelek, nah kita malah males baca, haduh malu deh! Ini sekedar sharing aja ya, gak usah dimasukin ke dalam hati, masukinnya ke dalam hati yang terdalam, sama aja kali. Sebagai seorang yang masih jomblo, saya banyak belajar dari kawan yang sudah menikah, dari pengalaman hidup orang lain, dan masih banyak hikmah dan pelajaran yang pastinya bisa kita petik, hidup ini sebenarnya adalah madrasatu al hayah atau sekolah kehidupan, yang kita bisa belajar banyak darinya. Jadi teringat kata-kata seorang abang yang datang jauh-jauh dari Riau, pernah bilang, “Kita belajar dari pengalaman orang lain, tanpa harus melakukan.” wiiih dalem, sedalam cintamu padanya! [wahyunugrohox]

Untuk Engkau

Engkau yang menjadikan akal di depan kepalamu, padahal engkau telah memahami kepalamu harus tunduk pada hukum, kenapa kau masih berlaku demikian?

Ketika ada hukum yang sesuai dengan hawa nafsumu, engkau terima hukum tersebut dan kau kampanyekan sehingga dirimu terlihat seperti orang yang paling memahami dan paling menjalankan hukum tersebut … padahal engkau cuma ingin dibilang ‘alim’ ‘sholeh’ dan gelar yang lainnya.

Namun ketika ada hukum yang bertentangan dengan nafsumu, engkau buang dan engkau sembunyikan perilaku menyimpangmu serta mengatakan di depan khalayak engkau menerima dan menjalankan hukum tersebut … padahal engkau berdusta.

Sungguh rendah perilakumu wahai pendusta!!!

Engkau berkata baik, mengajak yang baik … namun pada saat yang sama engkau lalai dan melupakan dirimu .. tidakkah kau berpikir? tidakkah kau merungkan itu?

Atau hatimu tertutup hijab kesombongan lagi hijab kesesatan sehingga hatimu keras seperti batu bahkan lebih keras lagi, dan kebenaran pun enggan masuk ke dalam hatimu yang kotor lagi najis itu.

Padahal kebenaran sudah beredar di sekitarmu, namun memang enggkau enggan dan hatimu sakit.

Sadarlah wahai yang di hatinya berpenyakit … kembalilah pada Rabbmu .. selagi engkau masih memiliki kesempatan itu … menuju ampunan dari Tuhanmu …

@wahyunugrohox

Sabtu, 09 Mei 2015 … 15.31 WIB

IHSANUL ‘AMAL

Setiap muslim pasti ingin amal ibadahnya diterima oleh Allah. Agar amal ibadah diterima oleh Allah, seluruh amal ibadah harus memenuhi kriteria amal yang ihsan atau ihsanul ‘amal, sebagaimana Allah swt. berfirman :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

Menceritakan kepada kami Bapakku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Yazid dan Muhammad bi Ja’far berkata keduanya, menceritakan kepada kami Ismail bin Yazid, menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al-’Asy’ats, beliau berkata aku mendengar Al-Fudhail bin ’Iyadh berkata tentang firman Allah: ”Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”, beliau berkata: ‘Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah”. Continue reading